Senin, 06 September 2010

Hutan Galam atau Kayu Galam

Menurut beberapa sumber Hutan Rawa atau yang lebih dikenal sebutan Hutan galam di Kalimantan Selatan masih banyak dijumpai di Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, Tapin dan Kota Banjarbaru. Hutan galam didominasi oleh jenis kayu galam ( Melaleuca cajuputi ) . tumbuh secara alami dan merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan rawa, air tawar yang pada umumnya memiliki pH rendah (3 – 5) dan kurang subur. Hutan galam tersebut merupakan nafas bagi kehidupan bagi sebagian masyarakat, hutan menghasilkan kayu galam yang merupakan bahan konstruksi di lahan rawa , sumber bahan baku bagi industri pengolahan kayu hulu (IPKH) dan sekaligus merupakan sumber mata pencaharian masyarakat.


Keberadaan luas hutan galam cenderung semakin menyusut, di Kabupaten Barito Kuala, penyusutan disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama dikonversi untuk permukiman transmigrasi dan persawahan pasang surut. Pengkonversian ini masih terus berlangsung, karena sebagian hutan galam merupakan lahan 2 (dua) bagi para transmigran. Selain itu, hutan dikonversi oleh perusahaan swasta skala besar untuk perkebunan kelapa hibrida.

Pengkonversian hutan galam sebenarnya merupakan dilema bagi Pemda Kabupaten Barito Kuala demi pembangunan, disatu pihak Pemda dituntut untuk bisa dipenuhi begitu saja, karena kondisi alam kabupaten yang terletak di delta luas Pulau Petak dan yang dipengaruhi oleh air Sungai Barito dan Sungai Kapuas Murung ini menjadikan lahan kurang produktif. Apabila dibandingkan dengan produk yang diperoleh dari tipe hutan lain (seperti meranti dari hutan pegunungan), produk dari hutan galam relatif kecil hanya berupa kayu galam



Persebaran dan Sifat

Galam ( Melaleuca cajuputi ) merupakan tumbuhan yang bisa mencapai tinggi 40 m dan diameter setinggi dada sekitar 35 cm. Tumbuhan ini tumbuh di rawa air tawar dan di daratan tergenang musiman di tepi laut. Penyebarannya ada di Myanmar, Thailand, Indochina, Malaka, Indonesia, Papua New Guinca,

Australia
Karena tumbuh di hutan rawa kayu galam toleran terhadap tanah asam dan salinitas. Tumbuhan ini merupakan pohon lapisan bawah di hutan rawa primer tetapi akan tumbuh mencolok setelah pembakaran berulang. Pembakaran/kebakaran lahan sangat menguntungkan bagi galam, karena akan memicu pelepasan biji dan buah, menciptakan lingkungan yang cocok untuk perkecambahan dan mematikan tumbuhan yang menjadi pesaing galam.

Kegunaan
Pohon dapat dimanfaatkan sebagai peneduh jalan kayunya termasuk dalam kelas awet III dan kelas kuat II digunakan untuk kayu bakar, tiang pancang kecil, tiang bangunan, sumber bahan baku industri pengolahan kayu. Kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisap nanah pada luka atau dibuat ekstrak untuk mengobati rasa lesu, susah tidur. Apabila ditambah damar, kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan penambal perahu .

Daun-daun menghasilkan minyak kayu putih yang dapat digunakan sebagai obat gosok untuk mengobati rematik, nyeri pada tulang dan syaraf, radang usus, perut kembung, diare, radang kulit, eksim, sakit kepala, sakit gigi dan sesak nafas .

Bunga merupakan sumber penghasil madu dan buah kering berfungsi sebagai pengganti merica hitam. Buah dan biji yang dikenal sebagai merica bolong dipergunakan oleh orang Jawa dan Bali sebagai bahan jamu untuk mengobati penyakit lambung.

Produk Hutan Galam
Hutan galam dapat dikelompokkan ke dalam hutan galam murni dan hutan galam yang sudah dikonversi. Hutan galam murni adalah hutan yang didominasi oleh galam. Walaupun sudah dieksploitasi, hutan galam dapat pulih kembali waktu yang relatif singkat. Hutan galam yang sudah dikonversi adalah area yang pada awalnya hutan galam tetapi selanjutnya diubah untuk kepentingan lain, seperti areal transmigrasi, lahan pertanian, dan lahan perkebunan (kelapa hibrida).

Ada dua jenis galam yang dikenal oleh masyarakat, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit kayu yang relatif tipis dan berwarna kemerahan (seperti tembaga) sedangkan galam putih memiliki kulit kayu yang relatif tebal dan berwarna keputihan. Galam tembaga biasanya tumbuh dilahan tepi sungai, sedangkan galam putih dilahan hutan bagian dalam (relatif jauh dari tepi sungai). Bila dimasukkan ke dalam air, kayu galam tembaga cenderung tenggelam, sedangkan kayu galam putih akan terapung.

Batang galam digunakan untuk bahan pokok atau penunjang konstruksi, bahan baku industri penggergajian, dan kayu bakar (lihat tabel). Dalam kaitan dengan kegunaan ini, bantuk dan ukuran batang galam bermanfaat penting bagi konsumen dan industri.

Batang galam untuk bahan konstruksi harus lurus dan ujungnya (bagian batang yang memiliki diameter terkecil) berdiameter 4 -15 cm. Panjangnya bervariasi dan yang umum adalah 2,4 atau 7 m. Batang galam dengan panjang 3,5,6 m jarang dijual dipasar ; kalaupun ada, batang galam ini merupakan barang pesanan konsumen.

Berkaitan dengan panjang galam, ada istilah yang perlu dipahami, yaitu panjang pasaran dan panjang ukur. Panjang pasaran (biasa disebut panjang saja atau kadang-kadang disebut panjang kotor) merupakan panjang yang biasa disebutkan dipasar, sedangkan panjang ukur (sering disebut panjang bersih) merupakan panjang sebenarnya dari batang galam. Dengan istilah ini, apabila panjang galam 2 dan batang galam panjang 7 disebutkan, maka ukuran sebenarnya batang galam itu lebih pendek 10-25 cm dari 2 m dan 7 m.

Di pedesaan, konstruksi yang berbahan kayu galam adalah fondasi (kacapuri) dan kerangka-atas rumah (seperti tiang, gelagar). Menurut pengalaman masyarakat, kayu galam yang dipergunakan untuk kerangka atas rumah tidak awet dan mudah lapuk umurnya sekitar 10 tahun. Apabila mengalami basah dan kering silih berganti, umurnya bahkan lebih pendek (sekitar 5 tahun). Karena umur yang relatif pendek inilah, kayu galam digolongkan ke dalam kelas awet III.

Di perkotaan yang berlahan rawa (seperti Marabahan dan Banjarmasin), batang galam pada umumnya dipergunakan untuk fondasi bangunan dan untuk penyangga mal/pencetak beton. Untuk fondasi bangunan permanen atau rumah beton, batang galam dipancangkan tegak lurus bumi. Sistem pemancangan yang dikenal dengan sebutan cerucuk. Ini dapat mendukung beban relatif berat. Untuk fondasi bangunan tak permanen (rumah kayu, rumah sederhana), batang galam dipasang horizontal.

Pemasangan galam seperti ini disebut sebagai kacapuri.
Berbeda dengan penggunaannya untuk bahan konstruksi atas, penggunaan batang galam sebagai fondasi menjadikan galam berumur panjang (50 tahun). Ini merupakan akibat dari terendamnya galam terus-menerus di tanah basah. Jenis galam yang lebih disukai untuk dijadikan fondasi oleh masyarakat adalah galam tembaga.

Selain untuk bahan kerangka-atas dan fondasi bangunan, batang galam dipergunakan untuk bahan baku industri penggergajian. Batang galam untuk keperluan ini juga harus lurus, tetapi diameter ujungnya antara 15 dan 30 cm. Dari batang galam ini akan dihasilkan kayu gergajian berupa reng (2 x 3 cm2), balok (5 x 5 x cm2, 5 x 7 cm2), atau papan (2 x 20 cm2) dengan panjang masing-masing 4 m. Kayu gergajian ini dipasarkan ke Jawa Timur dan Madura.

Kayu galam juga dimanfaatkan untuk bahan keperluan rumah tangga, yaitu sebagai kayu bakar. Kayu untuk keperluan ini diperoleh dari pohon yang berbatang bengkok atau dari limbah (sisa potongan) kayu dari pohon galam yang ditebang. Kayu sepanjang ± 50 cm dibelah tak beraturan. Sebagian besar penggunanya adalah masyarakat pedesaan.

Keterlibatan Masyarakat
Hutan galam memberikan manfaat yang relatif besar bagi kehidupan masyarakat. Keberadaannya sebagai hutan negara disadari oleh masyarakat dan sebagai penghasil kayu, hutan galam dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Pemanfaat hutan galam sebagai penghasil kayu terdiri atas peramu, pengumpul, pengecer dan konsumen.

Peramu adalah orang yang sebenarnya sangat tergantung pada keberadaan hutan galam. Peramu menebang galam di area kerja tertentu, memanggulnya ke tatah, dan selanjutnya mengangkutnya dengan jukung ke tempat pengumpulan yang terletak di tepi sungai, anjir kanal, atau jalan. Peramu bekerja secara berkelompok (sedikitnya 10 orang). Kelompok peramu membagi area kerja dengan sepengetahuan Kepala Desa. Kelompok ini saling percaya dan tidak akan menebang atau mengambil galam di area yang bukan haknya.

Area kerja yang tidak memiliki ukuran yang pasti dan bahkan peramu tidak mengetahui luasannya. Namun, luas area kerja diperkirakan paling sedikit 50 borong. (Catatan : 1 borong adalah luas sebidang lahan dengan panjang dan lebar masing-masing 17 m). Area kerja dibatasi dengan tatah, yaitu lahan selebar ± 3 m yang mengelilingi area kerja dan yang sudah dibersihkan dari tetumbuhan oleh kelompok peramu sebelum pemagian area kerja. Karena dibuat dengan tenaga manusia, tatah ini tampaknya yang menjadi ukuran bahwa luas area kerja dianggap mencukupi.

Tatah menyerupai saluran air dan dapat dilewati jukung, perahu kecil yang dapat dipergunakan untuk mengangkut galam ke tempat pengumpulan sementara atau ke tempat pengumpulan tetap (pangkalan). Dengan demikian, tatah tidak hanya berfungsi sebagai batas area kerja tetapi juga berfungsi sebagai prasarana pengangkutan.

Pengumpul kayu adalah orang yang mengumpulkan galam dari peramu atau pembeli galam di tempat pengumpulan sementara. Pengumpul selanjutnya menumpuk galam di pangkalan atau menjualnya kepada pengecer/konsumen. Pengumpul ini bermodal cukup besar karena harus membayar langsung harga galam kepada peramu.

Meramu juga merupakan pekerjaan yang disukai, karena peramu dapat hidup tanpa bergantung pada orang lain atau tidak di bawah tekanan orang lain (dalam hal ini misalnya, perusahaan perkebunan). Hal ini memang dapat dibuktikan. Meramu hanya dilakukan ketika kondisi keuangan keluarga peramu menipis. Dengan kata lain, Meramu tidak dilakukan setiap hari.

Aspek Pelestarian
Masyarakat pada umumnya atau peramu khususnya, tidak memikirkan teknik/konsep pelestarian (hutan) galam. Mereka berpendapat bahwa di lahan hutan rawa, galam tidak perlu di tanam. Galam akan tumbuh dengan sendirinya. Bahkan selama pertumbuhan, galam tidak memerlukan pemeliharaan intensif.

Namun, disadari atau tidak, peramu telah mewujudkan pelestarian hutan galam melalui perilaku hidup sehari-hari. Pertama, mereka tidak setuju terhadap pengubahan hutan galam menjadi perkebunan hibrida. Hutan galam menunjang kelangsungan hidup peramu dan keluarganya. Apabila tidak ada hutan galam, irama kehidupan mereka terganggu.

Kedua, peramu menebang galam sesuai kebutuhan atau tidak menebang galam setiap hari. Perilaku ini memberi andil memperkecil percepatan pengurangan populasi galam dan memberi peluang pemulihan hutan galam ; apalagi, alat penebangan yang dipergunakan adalah kapak yang pengoperasiannya dilakukan dengan tenaga manusia.

Ketiga, peramu tidak menebang semua individu galam atau tidak menebang habis galam di area kerjanya. Mereka meninggalkan anakan dan sumber benih dalam setiap penebangan. Pohon galam yang ujungnya berdiameter lebih kecil dari 4 cm tidak ditebang karena memang tidak/belum dimanfaatkan. Pohon galam merupakan anakan yang akan dapat dipanen sedikitnya 3 tahun kemudian. Pohon galam berbatang bengkok jarang ditebang. Kalaupun ditebang, kayu untuk kayu bakar, namun tidak semua kayu bakar berasal dari galam. Pohon galam berdiameter lebih besar dari 30 cm juga jarang ditebang, karena peramu kesulitan mengangkutnya. Pengangkutan galam dari tapak tebang ke tatah memang dilakukan dengan cara manual, yaitu dipanggul. Pohon-pohon yang tidak ditebang tersebut merupakan sumber benih untuk peregenerasian berikutnya.

Walaupun terdapat perilaku untuk melestarikan galam, potensi pengrusakan hutan galam tetap ada. Potensi pengrusakan itu berupa peningkatan kecepatan penebangan untuk memenuhi kebutuhan akan kayu galam. Kebutuhan yang tinggi akan kayu galam merupakan konsekuensi dari peningkatan kecepatan pembangunan perumahan (terutama di Banjarmasin yang berjarak sekitar 50 km dari ketiga desa itu)

1 komentar:

  1. bagaimana dengan kayu galam apabila dipakai untuk cerucuk pada lahan yang berair payau. apa ada pengaruhnya thdp keawetan kayu tsb? Tks
    adhi pratama ,email : fen.kus1956@gmail.com

    BalasHapus